Seorang pemuda yang Ia merasa bahwa ia sudah melakukan segala ketaatan. Amal dirasa telah banyak, Ibadah dirasa selalu dilaksanakan teta...

BOLEH MAKSIAT, ASAL...

Boleh Maksiat

Seorang pemuda yang Ia merasa bahwa ia sudah melakukan segala ketaatan. Amal dirasa telah banyak, Ibadah dirasa selalu dilaksanakan tetapi terbersit dihatinya ia lelah dengan semuanya ia ingin melakukan maksiat.

Pergilah menemui sang guru dan bertanyalah pemuda tersebut, “guru saya telah beribadah sekian lama, saya selalu dalam keadaan taat bolehkah saya melakukan maksiat? tanyanya” jawab sang guru “Boleh!!!”. Boleh guru?? Timpal pemuda. Sang guru kembali berkata tapi ada 5 syarat yang jika kau mampu penuhi syarat tersebut kau boleh maksiat sepuasnya kapanpun dan dimanapun.

Baiklah saya beri syarat yang ke-1 ujar sang guru, “Kamu boleh maksiat asal jangan pakai rezeki Allah”. Sang pemuda pun menerima syarat ke-1 namun, ditengah perjalanan ia berfikir tentang rezeki Allah itu. Ia melihat kesekelilingnya dan bertanya pada dirinya, “Bukankah semua ini, alam semesta ini adalah rezeki yang telah diberikan Allah kepadaku?, Ia pun melihat semua anggota badannya, kembali ia bergumam dalam hati. Bukankah rezeki badan ini telah diberikan oleh untuknya, mata yang bisa melihat, tangan bisa menggenggam, telinga mendengar, lisan berucap, kaki melangkah. Semua ini adalah rezeki yang diberikan Allah kepadanya.

Maka ia tidak bisa bermaksiat karena syarat pertamanya itu tidak bisa ia tepati, ia pun kembali kepada sang guru. Wahai guru saya sudah menerima syarat pertama untuk maksiat namun saya tidak dapat melaksanakannya, lantas apakah syarat yang ke-2. Sang guru kembali memberikan syarat yang kedua, “Kamu boleh bermaksiat asalkan kamu tidak berada di bumi dan alam jagad ini”.

Pemuda ini berpikir sejenak dimanakah tempat yang bukan berada di bumi dan alam raya ini yang boleh dipakai maksiat, ia berpikir didaratan tetapi daratan ada di bumi, begitupun lautan, angkasa semua ada di alam raya. Ia pun kembali tidak dapat melaksanakan syarat ke-2, ia berniat bertanya kembali tentang syarat ke-3.

Guru, Apakah syarat ke-3? tanyanya. Syarat ke-3 adalah “Carilah tempat yang tersembunyi yang dimana tidak ada seorangpun, siapapun yang dapat melihat engkau”, jawab sang guru.

Nah sepertinya saya dapat menjalankan syarat yang ini, ujar pemuda. Ia mencari tempat yang sepi, jauh dari keramaian dimana hanya ada dirinya seorang. Ditempat yang sepi itu ia akan melakukan maksiat. Namun, ia memastikan sudah benar-benar tidak ada lagi orang yang dapat melihatnya ia pun sangat lega. Hatinya terhenyak manakala ia teringat bahwa Tuhan itu maha melihat, kendatipun ia tidak bisa melihat Tuhan, namun tetap Tuhan maha melihat. Sang pemuda pun kembali tidak bisa menjalankan syarat ke-3 tersebut.

Ia tak merasa lelah, didatanginya kembali sang guru dan bertanya apakah syarat ke-4, sang guru kembali memberikan syaratnya, “Boleh maksiat, namun jika malaikat maut datang hendak mencabut nyawa mu, katakan pada malaikat maut tangguhkanlah kematianku walau hanya sebentar saja”. Seketika itu juga pemuda tadi mengangkat tangan tidak bisa melaksanakan syarat yang ke-4.

Ia, pemuda itu kembali bertanya, lalu apakah syarat ke-5 guru?. Syarat ke-5 adalah “Bila nanti diakhirat malaikat Jabaniyyah (Malaikat penyiksa di Neraka) menangkapmu. Katakan pada malaikat Jabaniyyah, saya tidak mau ikut, saya ingin pergi kesurga saja”.

Pemuda tersebut seketika tersungkur jatuh bersujud dan meminta ampun atas segala kekhilafan yang mana ia ingin melakukan maksiat. Tiada satu syaratpun yang dapat ia laksanakan.

Demikianlah sahabat, mungkin pernah terbersit dibenak kita apa yang dipikirkan oleh pemuda tadi. Ingin melaksanakan maksiat, berbuat dosa dan perbuatan keji lainnya. Kita harus senantiasa mengingat Allah dimana saja, kapanpun, dimanapun Allah selalu bersama kita. Allah selalu mengawasi setiap gerak gerik kita, pandangan mata kita, mengetahui yang terang dan tersembunyi dalam hati kita.

5 Syarat boleh maksiat :

1. Jangan memakai rezeki yang telah diberikan Allah kepada kita
2. Jangan bermaksiat dibumi dan alam yang diciptakan Allah
3. Carilah tempat tersembunyi dimanapun yang tidak terlihat olehNya
4. Jika malaikat maut datang katakanlah padanya tangguhkanlah kematian barang satu detik saja
5. Bila nanti diakhir malaikat Jabaniyyah menangkapnya dineraka maka katakan saya ingin masuk surga.

2 komentar:

Cukuplah Al-Fatihah menjadi jawaban hidup ini. Yaa Allah tolonglah hamba Yaa Rabb Engkau lebih mengetahui segala sesuatu daripada hamb...

YAA ALLAH

Yaa Allah

Cukuplah Al-Fatihah menjadi jawaban hidup ini.
Yaa Allah tolonglah hamba Yaa Rabb
Engkau lebih mengetahui segala sesuatu daripada hamba Yaa Rabb

Alhamdulillahirabbil alamiin
Segala puji bagimu yaa Rabb Tuhan pemilik segala alam semesta, yang tiada tandinganya, yang kuasanya meliputi langit dan bumi, yang mengetahui yang nyata dan yang tersembunyi, yang mengetahui apa yang dinyatakan oleh hati dan dirahasiakan didalamnya.

Segala puji hanya untuk-Mu. Duhai Rabb, Yaa Allah hanya kepada-Mulah hamba mengadu. Wahai Rabb pemilik jagat raya yang maha terpuji, tolonglah hamba Yaa Rabb.

Mengapa sulit menggetarkan hati ini ketika disebut nama-Mu yang agung dan indah itu, mengapa sulit Yaa Rabb? Hamba tahu mungkin dinding dosa yang melekat pada segumpal daging ini sudah terlanjur tebal, sehingga tak bisa ditembus oleh pancaran Cahaya-Mu.

Segala puji hanya bagi-Mu Yaa Rabb, yang memberikan karunia yang begitu besar walau terkadang yang diberi karunianya tidak pandai bersyukur, maafkan kami Yaa Rabb, betapa seringnya kami melalaikan kewajiban-Mu, betapa sering kami menjauh dari-Mu, betapa sering kami lupa pada-Mu, betapa sering kami lalai pada-Mu, maafkan kami, ampuni kami. Walaupun kami sering berbuat dzalim terhadap diri ini, bagaimana pertanggung jawaban semua ini dihadapan-Mu Yaa Dzal jalaali wal ikraam

Arrahmaanirrahiim
Engkau lah yang Maha Pengasih itu, mengasihi siapa pun tanpa terkecuali, maafkan kami Yaa Rahmaan karena kami masih belum bisa menyebarkan rasa kasih sayang itu Yaa Rahman, terkadang hati kami dipenuhi oleh api dendam, amarah, dengki, sombong, ujub, riya, hingga tak terhitung berapa banyak dosa dalam hati kami, bahkan kami masih belum bisa menyebarkan rasa kasih sayang itu pada diri, keluarga, teman, tak terhitung aniaya diri ini. Ampuni kami yaa Rabb, karena kami belum bisa menjalankan sifat arrahim yang maha penyayang, sedangkan engkau masih menyayangi kami walaupun kami terkadang lupa pada-Mu. Yaa Rabb jangan hukum kami.

Maaliki yaumiddiin
Engkaulah Sang Raja, pemilik hari pembalasan, Yaa Rabb bagaimana kami akan menemui engkau sedang keadaan kami penuh dengan dosa, penuh dengan kehinaan, sedangkan pada hari itu adalah hari penghakiman yang sangat mengetarkan hati, yang semua perbuatan kita akan dihisab yang selanjutnya akan diberikan kitab catatan amal, karuniakanlah kami kitab catatan Illiyyin yang diberikan bagi orang-orang beriman, bukan kitab Sijjin yang diberikan pada orang-orang yang berdosa, Yaa Rabb ampuni kami Yaa Allah !!! Semua perbuatan kita akan dimintai pertanggung jawaban, mau mengandalkan apa? Shalat? Sedangkan shalat kita jauh dari kata khusyu, terkadang malas melaksanakannya, terkadang lalai, terkadang tak ingat pada-Mu, Zakat? Zakat, sedangkan zakat kita hanya sedikit, berat rasanya mengeluarkan infaq dijalan-Mu, Puasa? Sedangkan puasa kami belum benar-benar murni “menahan” dari nafsu, puasa hanya puasa perut sedangkan membelenggu nafsu tidak, ampuni kami Yaa Rabb.

Iyyaka na’budu wa iyyakanasta’iin
Hanya kepada engkaulah kami menyembah, hanya pada engkaulah diri mengabdi, hanya kepada Engkaulah Yaa Rabb, kami yakin tidak ada yang mampu menolong selain Engkau, kami yakin tidak ada yang bisa memberikan jawaban atas persoalan hidup selain Engkau, kami yakin tidak ada yang bisa memberi petunjuk kecuali Engkau Yaa Rabb.

Anta ghaniyyu wa nahnul fuqoro, Engkau kaya sedangkan kami fakir yaa Rabb.

Wa Iyyaka nasta’iin
Hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan, karena tanpa-Mu kami bukan siapa-siapa, karena tanpa-Mu kami tak bisa apa-apa, Yaa Rabb, Urusilah dan perbaikilah kehidupan kami di dunia ini karena ini adalah tempat penghidupan kami, Urusilah dan perbaikilah kehidupan akhirat kami, karena akhirat adalah tempat kembali bagi kami yang kekal selama lamanya.

Allahumma Agitsnaa, Yaa Rabb tolong kami.

Ihdinashiraatal mustaqiim Shiratal ladziina an‘amta alaihim
Tunjukilah kami jalan yang lurus, yang akan menghantarkan kami pada syurga-Mu Yaa Rabb, yang Engkau janjikan bagi orang-orang bertakwa, yang dipenuhi dengan segala kenikmatan yang tidak pernah dapat tergambar oleh akal, logika, berikanlah kami kenikmatan itu Yaa Rabb, kami memohon Firdaus yang tinggi itu Yaa Rabb, bukakanlah tujuh pintu syurga yang Engkau janjikan itu, izinkanlah kami memasukinya beserta sanak keluarga kami, teman-teman kami, sahabat-sahabat kami, yang didalamnya terdapat sungai dari arak yang tidak memabukkan, sungai dari madu , sungai dari susu, yang tidak ada kesengsaraan di dalamnya.

Ghairil maghdhuu bi alaihim waladzaaliin
Bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai. Yaa Allah janganlah Engkau menghukum kami Yaa Rabb, janganlah engkau memberi adzab kami karena sesungguhnya adzab Engkau itu pedih, Yaa Allah ampuni kami, Rabbanaa dzalamnaa anfusana wa inlam taghfirlana lana kuunanna minal khoosiriin, Jika engkau tidak mengampuni kami niscaya kami termasuk kedalam orang yang rugi, hina dina.

Hanya air mata ini yang bisa kami haturkan pada-Mu yaa Rabb, kami berharap setiap air mata yang menetes ini kan menjadi saksi, hanya air mataa iniii ...

Ampuni kami Yaa Rabb








0 komentar:

   Maha Suci Dzat yang menjadikan ;    Berhina pada-Nya sebagai kemuliaan    Berfaqir pada-Nya sebagai kekayaan    Tunduk pada-Nya se...

TIADA DAYA, MAKA BERJAYA

Tiada Daya, Maka Berjaya

   Maha Suci Dzat yang menjadikan ;
   Berhina pada-Nya sebagai kemuliaan
   Berfaqir pada-Nya sebagai kekayaan
   Tunduk pada-Nya sebagai keluhuran
   Dan bersandar pada-Nya sebagai kecukupan…

Lelaki itu pergi dengan marah.

Mari kita fahami betapa berat tugas dakwahnya yang di Ninawa, betapa telah habis sabarnya atas pembangkangan kaumnya. Malam dan siang, pagi dan petang; diajaknya mereka meninggalkan berhala-berhala tak bernyawa dan perbuatan-perbuatan tak bermakna. Didekatinya mereka satu-satu maupun dalam kumpulan, ketika sepi maupun di keramaian.

Tetapi hanya cemooh dan tertawaan, umpatan dan makian, serta penolakan dan pengusiran yang dia dapat. Maka dia, Yunus ibn Matta namanya, pergi dengan marah. Dia tinggalkan negerinya sembari mengancamkan ‘adzab Allah yang sebagaimana terjadi pada kaum-kaum sebelumnya, pasti turun pada kaum pendurhaka. Bukankah demikian nasib kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, dan penduduk negerinya Luth?

Tapi dia pergi karena tidak sabarannya, tidak teguhannya, dan tidak telatenannya. Dia pergi sebelum ada perintah Allah untuk menghentikan seruannya. Dia menyerah sebelum tiba waktunya. Maka sebagai hamba yang disayangi-Nya, Allah akan mendidiknya untuk sabar dengan cara lain, jika dia tak sabar dalam tugas dakwahnya. Cara itu adalah musibah.

Kita tahu ringkasnya, Yunus  yang menumpang sebuah kapal akhirnya dibuang ke samudra setelah 3 kali muncul namanya dalam undian. Kapal itu dalam badai yang bergulung mengerikan, maka ada yang berkeyakinan seseorang harus dipersembahkan pada penguasa lautan. Lagipula, ia terasa kelebihan muatan. Awalnya, sang nakhoda tak tega. Yunus tampak sebagai orang baik. Tapi namanya muncul tiga kali, seakan memang hanya dialah yang dikehendaki.

Ketetapan Allah berlaku baginya. Seekor ikan membuka mulut menyambut tubuhnya yang terjun ke air. Bahkan, menurut sebagian mufassir, ikan yang menelannya dilahap ikan yang lebih besar, lalu dengan perut berisi ia menuju ke dasar lautan. Maka jadilah Yunus berada dalam gelap, dalam gelap, dalam gelap. Kelam berlapis-lapis.

***

Di antara hikmah yang selalu melekat pada setiap musibah adalah pertanyaan, “Apa kesalahanku sehingga cobaan ini menimpa?” Selanjutnya, memang kepekaan hatilah yang menentukan jawab dan tindakan yang akan diambil. Maka berbahagialah yang segera merundukkan diri di hadapan keagungan Allah, serta berlirih-lirih mengadukan kelemahan, kesilapan, dan kehinaan.

“Allah menciptakan manusia”, demikian Dr. ‘Abdul Karim Zaidan dalam Al Mustafaad min Qashashil Quran, “Dengan menggariskan baginya bahwa berbuat keliru dan jatuh dalam kesalahan adalah perkara yang mungkin, bahkan niscaya.” Tapi dengan kasih-Nya, Allah juga membukakan pintu agar dosa-dosa menjadi jalan kembali dan pelarian suci, tempat bersimpuh dan sandaran berteduh, mahligai yang syahdu bagi bermesra, meminta, dan beroleh karunia.

Maka demikianlah Yunus, ‘Alaihis Salam. Di perut ikan Nun, dalam gelap yang mencekik hingga ke hati, dia menangisi kelemahannya, menekuri hari-harinya, dan mengaku telah berbuat aniaya.

“La ilaha illa Anta, subhanaKa, inni kuntu minazh zhalimin. Tiada Ilah sesembahan haq selain Engkau. Maha Suci Engkau; sungguh aku termasuk orang yang berbuat aniaya.” (QS. Al-Anbiya’ [21] : 87)

Doa Yunus, betapa sederhana. Tapi indah dan mesra. Akrab dan hormat. Takzim dan syahdu. Demikianlah pada pinta para Nabi di dalam Al Quran, kita menemukan lafazh doa, ruh tauhid, sekaligus keindahan adab. Hari ini, ketika kita disuguhi fahaman antah berantah bahwa doa harus dirinci-rinci, dibayang-bayangkan, dan dijerih-jerihkan; seakan dengan demikian ia lebih cepat dikabulkan, mari berkaca pada doa Yunus.

Tak ada di sana pinta untuk mengeluarkannya dari perut ikan, apalagi desakan agar segera. Tak ada di sana rajuk-rajuk manja, hiba-hiba memelas, apalagi kalimat perintah yang pongah. “Doa Dzun Nun, ‘Alaihis Salam”, demikian menurut ibn Taimiyah, “Adalah di antara seagung-agung doa di dalam Al Quran.” Doa itu mengandung 2 hal saja, merunduk-runduk mengakui keagungan Allah, dan berlirih-lirih mengadukan kelemahan diri.

“Berdoalah menyeru Rabbmu dengan tadharru’ (merendahkan diri) dan khufyah (memelankan suara). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raaf [7] : 55)

Maka doa Yunus, yang tidak rinci, yang tidak dibayang-bayangkan, bahkan tak tergambar apa yang dipintanya, dijawab Allah dengan limpahan karunia yang membawa kejayaan. Dia hanya mengakui ketakberdayaan dan laku aniayanya pada diri sendiri; maka Allah yang Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, mengulurkan pertolongan-Nya, pembelaan-Nya dan bantuan-Nya.

Yunus bukan hanya dikeluarkan dari perut ikan. Dia bahkan tak perlu payah berenang, karena diantar oleh sang ikan sampai tepian. Dan tempatnya didamparkan bukanlah sembarang daratan. Imam Ibnu Katsir mengetengahkan riwayat dalam tafsirnya dari Ka’b Al-Ahbar dan Ibn ‘Abbas, bahwa Yunus dibaringkan di hamparan tanah yang kemudian ditumbuhi suatu tanaman dari jenis labu.

“Kemudian Kami lemparkan Yunus ke daratan kering, sedang dia dalam keadaan sakit. Kemudian untuknya Kami tumbuhkan pohon dari jenis yaqthin.” (QS. Ash-Shaaffaat [37] : 145-146)

Selazimnya seseorang yang terkurung dalam gelap di kedalaman laut selama waktu yang panjang, maka Yunus pun sakit. “Keadaan beliau seumpama burung yang kehilangan seluruh bulunya”, ujar Ibn Mas’ud menafsir. Adapun menurut Ibn ‘Abbas, “Beliau bagaikan bayi yang baru dilahirkan; ringkih, tak terlindung, rumih dan rentan.”

“Pohon yaqthin”, demikian masih menurut Ibn ‘Abbas, “Adalah qar’u, dari jenis labu yang tak disukai lalat dan serangga sehingga dia menaungi Yunus hingga terjaga.”

Ketika Yunus siuman, secara naluriah dia menggapai buah yang ada di dekatnya kemudian memakannya. Buah tanaman itu, yang mengandung air, gizi, dan zat-zat bermanfaat, amat mudah dicerna oleh tubuhnya. Khasiatnya menjalari seluruh pembuluh dan sendi, merasuki semua sumsum dan pori, memulihkan tenaga dan kesentausannya. Sakit, payah, dan terganggunya faal badan akibat berpuluh hari di dalam perut ikan dan di dasar lautan, kini pulih sehat dan bertambah afiat.

Nabi Yunus pun bugar kembali, bersemangat dan berjanji pada Allah untuk nanti teguh, istiqamah dan tak menyerah dalam berdakwah kepada kaumnya; apapun yang akan terjadi di hadapannya. Tetapi alangkah takjub penuh syukurnya dia. Sebab ketika kembali ke Ninawa, seluruh kaumnya justru telah beriman pada Allah. Jumlah mereka, lebih dari 100.000 orang kiranya.

Betapa berkah doa Yunus. Bukan hanya menjadi karunia keselamatan dirinya, doa itu bahkan menjadi anugrah hidayah bagi begitu banyak manusia dari kaumnya. Dakwah Yunus berjaya, tepat pada saat dia merasa dan mengaku bahwa dirinya berdosa di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Dakwah Yunus berjaya, ketika dia mengakui dirinya aniaya dan hatinya tunduk memuliakan Allah ‘Azza wa Jalla. Dakwah Yunus berjaya, ketika dia merasa tak berdaya.

Di lapis-lapis keberkahan, berjayalah hamba yang merasa tak berdaya tanpaNya. Maka Maha Suci Dzat yang menjadikan berhina padaNya sebagai kemuliaan, berfaqir kepadaNya sebagai kekayaan, tunduk padaNya sebagai keluhuran, dan bersandar padaNya sebagai kecukupan.

***

Kita menjawab panggilan adzan, ketika kita diseru untuk shalat dan dipanggil menuju kejayaan bukan dengan kepercayaan diri menggebu-gebu, bukan juga dengan keyakinan jiwa menderu-deru, bukan pula dengan rasa pasti mampu yang berseru-seru.

“Hayya ‘alash shalaah.. Marilah shalat!”, ajak Muadzin. Jawab kita bukan, “Siap! Bisa! Pasti bisa! Luar Biasa!” “Hayya ‘alal falaah! Mari menuju keberhasilan, kemenangan, dan kejayaan!”, sambung muadzin. Dan jawab kita bukan pula, “Saya! Saya! Saya! Yeaaa!”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, setaqwa-taqwa manusia, setaat-taat hamba, dan sekuat-kuat pengabdi Rabbnya mengajarkan sebuah jawaban yang apa adanya tentang betapa lemahnya kita. Ungkapan paling jujur itu adalah, “La haula wa la quwwata illa billah. Tiada daya untuk menghindar dari keburukan dan tiada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan, selain dengan pertolongan Allah, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

Ketika kaki melangkah keluar dari rumah, maka tuntunan doa bagi kita ada dalam hadits shahih dari Anas ibn Malik yang terrekam dalam Sunan Abu Dawud (595) dan Sunan At-Tirmidzi (3487). Bahwasanya Rasulullah bersabda,

“Jika seorang di antara kalian keluar dari rumahnya lalu mengucapkan:  ‘Bismillahi Tawakkaltu ‘Alallahi La Haula Wa La Quwwata Illa Billah.. Dengan nama Allah. Aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan kuasa Allah’; maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya, ‘Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan, dan mendapat penjagaan’, hingga syaithan-syaithan menjauh darinya. Lalu syaithan yang lainnya berkata kepada syaithan yang ingin menggodanya; ‘Bagaimana kau akan mengoda seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan, dan penjagaan?”

“Dengan asma Allah”, adalah ikrar iman kita. Tak ada tempat bagi nama selain-Nya, bahkan pun nama kita, dalam berangkat maupun kembali, berjalan maupun berhenti, di kala pulang maupun pergi. Hanya nama-Nya yang layak diagungkan di setiap tapak dan langkah, berjalan dan berkendara, hatta hingga jatuh dan bangunnya. Semua dalam nama Allah, agar kita menghadapkan wajah pada-Nya dengan lurus dan berserah diri.

Selanjutnya, kita menginsyafi bahwa hanya Allah-lah sandaran terkuat, terkokoh, terhebat. Bukan diri, ilmu ataupun hal-hal yang kita daku sebagai milik yang menjadi tempat bergantung. Bukan anak maupun pasangan, bukan kerabat maupun kawan, bukan rekan ataupun atasan. “Aku bertawakkal hanya kepada Allah”, adalah ikrar kepasrahan kita. Bahwa tiap tapak yang terayun serta tiap langkah yang terpijak ini, Allah-lah yang mengatur, mengarahkan, dan menepatkannya.

Dan akhirnya, “Tiada daya untuk menghindar dari maksiat dan keburukan, serta tiada kekuatan untuk menunaikan ketaatan dan meraih kebaikan; melainkan dengan kuasa dan pertolongan Allah.” Inilah kealpaan kita yang mudah tergoda, maka hanya dari Allah pembentengannya. Inilah kerawanan kita yang dalam bahaya, maka hanya dari Allah perlindungannya. Inilah kemalasan kita yang sering tak hendak, maka hanya dari Allah semangat dan kemampuannya. Inilah kelembekan kita yang tak menjangkau, maka hanya dari Allah penggapaiannya.

Demikianlah, di lapis-lapis keberkahan, tiap helaan nafas, tiap detakan jantung, dan tiap denyutan nadi terjalani dengan asma Allah, dengan tawakkal pada Allah dan dengan pengakuan bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali dengan karunia Allah. Sebab kita mengerti, pengakuan atas ketakberdayaan di hadapan Yang Maha Jaya adalah sumber kekuatan yang tak pernah kering, tak pernah habis, dan tak pernah berakhir.

0 komentar:

Bahagia adalah kalimat yang dengan nya mampu menyihir berjuta jiwa-jiwa yang sedang mengalami kegundahan hidup, bagaimana tidak berbag...

5S KUNCI KEBAHAGIAAN


Bahagia adalah kalimat yang dengan nya mampu menyihir berjuta jiwa-jiwa yang sedang mengalami kegundahan hidup, bagaimana tidak berbagai macam problematika kehidupan datang kepada kita silih berganti, seolah menunjukkan kuasanya. Bahagia adalah suatu kata yang semua orang memimpikan, semua orang sekuat tenaga untuk menggapainya. Bagaimana tidak bahagia menjadi penyejuk dahaga bagi para insan manusia yang haus akan jawaban dari semua permasalahan hidup. 

Tentunya tidak salah bagi kita untuk mengharapkan kebahagian, Karena hanya mesti diperjuangkan. Setiap muslim pasti menginginkan kebahagian yang hakiki, bukan hanya kebahagiaan di dunia saja tetapi kebahagiaan di akhirat kelak. Banyak yang memperjuangkan kebahagiaannya namun terkadang perjuangan mencapai kebahagiaan itu melenceng, jauh, melesat dari kebahagiaan yang sebenarnya, dari kebahagiaan hakiki.

Hingga terkadang kita mencari kebahagiaan dari selain Allah, Padahal kebahagiaan sesungguhnya adalah bersama sang pencipta kebahagiaan. Banyak orang yang justru menggapai kebahagiaanya dengan cara-cara yang batil. Banyak orang yang menggapai kebahagiaan dengan menghabiskan uang dimeja judi, berhura-hura, bahkan bermaksiat. Allahu akbar, betapa banyak sebenarnya kebahagiaan-kebahagiaan yang banyak hadir dalam kehidupan kita. Hanya saja terkadang kita tidak menikmati kebahagiaan yang singgah didalam hati itu. Kita terkadang fokus terhadap kekurangan, fokus terhadap penderitaan, fokus terhadap sesuatu hal yang kita tidak kita miliki. Sahabat, Kita tidak diperintahkan untuk fokus terhadap berbagai kekurangan, kita diperintahkan untuk mensyukuri sekecil apapun nikmat yang Allah berikan kepada kita. Syukuri nikmat-Nya.

“ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat” (Qs. Ibrahim [14] : 7).

Sederhana sebenarnya bila kita menginginkan bahagia, hal yang terpenting adalah syukur dalam segala aspek, baik syukur dengan hati, syukur dengan perkataan dan syukur dengan perbuatan.

Jika kita ingin memasuki rumah, apa yang pertama kita akan lakukan?, Pertama mungkin kita akan hadir kedepan pintu, Nah setelah itu apa yang akan kita lakukan? Tentu saja bila pintu rumah tadi terkunci apa yang akan kita lakukan ? mengeluarkan kunci kan, Lantas setelah mempunyai kunci itu apakah kita hanya diam termangu melihat kunci itu? Tentu saja setelah kita mendapat kunci itu kita berusaha memasukan kunci itu kedalam lubang gagang pintu, lantas kita putar kunci tersebut sehingga terdengar suara “cklik” lantas kita buka pintu dan pintu pun terbuka.

Cerita tadi bukan berisi tentang tutorial cara membuka pintu dengan baik dan benar hehe. Tapi ada hikmah besar yang terkandung didalam nya. Hikmahnya adalah ketika kita sudah mendapat kunci kita tidak hanya diam melihat kunci itu saja, tapi harus ada “Usaha” yang perlu dilakukan, yaitu dengan memasukkan kunci itu kedalam lubangnya. Jelas yang kita butuhkan bukan hanya kunci kebahagiaan tetapi ikhtiar yang ikhlas tuk gapai kebahagiaan yang kita impikan.

5 S Kunci kebahagiaan itu adalah :

        1.Shalat Malam 
        2.Shalat Dhuha
        3.Shaum
        4.Sedekah
        5.Shalawat

        Diantara kunci kebahagiaan itu salah satu diantaranya adalah shalat malam, mengapa shalat malam? mari kita kupas mengenai shalat malam (Qiyamul lail), berbagai macam keutamaan yang melimpah ruah didalam nya.

        Mengapa Shalat menjadi kunci kebahagiaan, kunci kesuksesan ? Karena :

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat...” (Qs. Al-Baqarah [2] : 45).

        Bagi mereka yang percaya terhadap ke-MahaanNya cukuplah dengan bersabar dan shalat menjadi solusi terbaik bagi kehidupan kita. Terkadang kita menjadikan shalat hanya menjadi sebatas ritual rutinan harian, dingin tanpa pengharapan dan penghambaan terhadap-Nya. Shalat seharusnya bisa menjadi jawaban terbaik bagi kehidupan.

        Dengan shalat bila kita membutuhkan pertolongan memohonlah, dalam keadaan genting, terhimpit seakan-akan dunia terasa sempit menghimpit. Kita tidak tahu kemana kita akan meminta pertolongan.

         Harun bingung dengan sebingung-bingungnya bagaimana tidak. Ia seakan-akan kehilangan dunianya, ia sangat terhimpit dengan segala cobaan persoalan hidup yang melanda, seolah dunia tidak lagi berpihak kepadanya. Hanya caci maki yang hinggap setiap ia melangkahkan kakinya. Bagaimana tidak, Ia kebingungan saat akan memasukan sekolah anaknya. Ia kehilangan arah, kesana kemari meminta pertolongan berharap ada yang memberinya pinjaman uang. Dijalaninya satu persatu orang yang dianggapnya dapat membantunya dengan meminjamkan uang. Pintu demi pintu ia sambangi untuk meminjam uang. Hingga terbersit dalam pikirannya untuk meminjam uang pada saudaranya yang dirasanya dapat membantunya. Namun sayang tidak ada yang memberinya pinjaman uang 4 juta tersebut. Ia bingung sekonyong-konyong nya. 

        Harun tak tahu lagi kemana ia harus labuhkan dirinya, sehingga ia berhenti untuk shalat di salah satu masjid. Ia meminta pertolongan kepada Allah. Ia baru tersadarkan bahwa ia terlalu mentuhankan uang , muntuhankan orang-orang yang dianggapnya dapat membantunya. Ia lupa terhadap Tuhan sebenarnya, hingga harun tersungkur dalam sujudnya yang dalam “Yaa Rabb darimana saya dapat uang itu, Saya minta pertolongan kepada Engkau, Yang Maha memberikan rezeki . Bantu hamba Yaa Rabb, saya yakin dengan Kuasa-Mu uang itu dapat saya peroleh”.

        Akhirnya Harun pulang kerumah dengan tangan hampa, uang yang ia harapkan hasilnya nihil, Ia berkata kepada Istri dan Anaknya, “Maaf bapak belum bisa membawa uangnya, sabar saja yah nak!”. Keesokan harinya ia kembali ke sekolah dimana anaknya itu diterima. “Maaf pak uang untuk bayar dana sumbangan pembangunannya senilai 4 juta rupiah bagaimana?, ujar pihak tata usaha sekolah”. “Maaf, bu saya belum mempunyai uang, bagaimana bila pembayarannya nanti, jawab Harun”. “Oh tidak apa-apa pak, biaya 4 juta tersebut dapat diangsur namun sekarang bayar 500 ribu saja untuk bayar seragam pak”. Subhanallah ternyata Allah lebih mengetahui, ternyata Harun membawa uang pas 500 ribu, ia langsung bayarkan uang tersebut dengan rasa lega karena 4 juta tadi tidak harus dibayar pada saat itu. Terpujilah Allah atas segala kuasa-Nya.

        Ada suatu hikmah yang dapat terpetik dari kisah diatas. Andai saja Harun sejak dari awal pergi ke masjid meminta pertolongan dengan shalat, pasti ia tidak perlu khawatir dan cemas. Ia terlalu mengandalkan manusia, lupa bahwa ada kekuatan yang sangat besar. Ini pula yang terkadang kita tak terasa lakukan, kita terlalu menganggap ada kekuatan selain dari Allah swt. Sebenarnya Tuhan kita siapa Allah atau Uang?. Tetapi kita terkadang mengagungkan uang, seolah-olah uang kuasa atas segalanya. Marilah kita kembalikan semuanya kepada Allah, murni, tulus dan ikhlas hanya padanya.

“Dan pada sebagian malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) itu mencintai kehidupan (dunia) dan meninggalkan hari yang berat (hari akhirat) dibelakangnya” (Qs. Al-Insan [76] : 26-27).

“Dan laksanakan salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam, perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang orang yang selalu mengingat (Allah).” (Qs: Hud; [11]: 114).

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ketempat yang terpuji.” (Qs. Al-Isra’ [17] : 79).



0 komentar: