
Pergilah menemui sang guru dan bertanyalah pemuda tersebut, “guru saya telah beribadah sekian lama, saya selalu dalam keadaan taat bolehkah saya melakukan maksiat? tanyanya” jawab sang guru “Boleh!!!”. Boleh guru?? Timpal pemuda. Sang guru kembali berkata tapi ada 5 syarat yang jika kau mampu penuhi syarat tersebut kau boleh maksiat sepuasnya kapanpun dan dimanapun.
Baiklah saya beri syarat yang ke-1 ujar sang guru, “Kamu boleh maksiat asal jangan pakai rezeki Allah”. Sang pemuda pun menerima syarat ke-1 namun, ditengah perjalanan ia berfikir tentang rezeki Allah itu. Ia melihat kesekelilingnya dan bertanya pada dirinya, “Bukankah semua ini, alam semesta ini adalah rezeki yang telah diberikan Allah kepadaku?, Ia pun melihat semua anggota badannya, kembali ia bergumam dalam hati. Bukankah rezeki badan ini telah diberikan oleh untuknya, mata yang bisa melihat, tangan bisa menggenggam, telinga mendengar, lisan berucap, kaki melangkah. Semua ini adalah rezeki yang diberikan Allah kepadanya.
Maka ia tidak bisa bermaksiat karena syarat pertamanya itu tidak bisa ia tepati, ia pun kembali kepada sang guru. Wahai guru saya sudah menerima syarat pertama untuk maksiat namun saya tidak dapat melaksanakannya, lantas apakah syarat yang ke-2. Sang guru kembali memberikan syarat yang kedua, “Kamu boleh bermaksiat asalkan kamu tidak berada di bumi dan alam jagad ini”.
Pemuda ini berpikir sejenak dimanakah tempat yang bukan berada di bumi dan alam raya ini yang boleh dipakai maksiat, ia berpikir didaratan tetapi daratan ada di bumi, begitupun lautan, angkasa semua ada di alam raya. Ia pun kembali tidak dapat melaksanakan syarat ke-2, ia berniat bertanya kembali tentang syarat ke-3.
Guru, Apakah syarat ke-3? tanyanya. Syarat ke-3 adalah “Carilah tempat yang tersembunyi yang dimana tidak ada seorangpun, siapapun yang dapat melihat engkau”, jawab sang guru.
Nah sepertinya saya dapat menjalankan syarat yang ini, ujar pemuda. Ia mencari tempat yang sepi, jauh dari keramaian dimana hanya ada dirinya seorang. Ditempat yang sepi itu ia akan melakukan maksiat. Namun, ia memastikan sudah benar-benar tidak ada lagi orang yang dapat melihatnya ia pun sangat lega. Hatinya terhenyak manakala ia teringat bahwa Tuhan itu maha melihat, kendatipun ia tidak bisa melihat Tuhan, namun tetap Tuhan maha melihat. Sang pemuda pun kembali tidak bisa menjalankan syarat ke-3 tersebut.
Ia tak merasa lelah, didatanginya kembali sang guru dan bertanya apakah syarat ke-4, sang guru kembali memberikan syaratnya, “Boleh maksiat, namun jika malaikat maut datang hendak mencabut nyawa mu, katakan pada malaikat maut tangguhkanlah kematianku walau hanya sebentar saja”. Seketika itu juga pemuda tadi mengangkat tangan tidak bisa melaksanakan syarat yang ke-4.
Ia, pemuda itu kembali bertanya, lalu apakah syarat ke-5 guru?. Syarat ke-5 adalah “Bila nanti diakhirat malaikat Jabaniyyah (Malaikat penyiksa di Neraka) menangkapmu. Katakan pada malaikat Jabaniyyah, saya tidak mau ikut, saya ingin pergi kesurga saja”.
Pemuda tersebut seketika tersungkur jatuh bersujud dan meminta ampun atas segala kekhilafan yang mana ia ingin melakukan maksiat. Tiada satu syaratpun yang dapat ia laksanakan.
Demikianlah sahabat, mungkin pernah terbersit dibenak kita apa yang dipikirkan oleh pemuda tadi. Ingin melaksanakan maksiat, berbuat dosa dan perbuatan keji lainnya. Kita harus senantiasa mengingat Allah dimana saja, kapanpun, dimanapun Allah selalu bersama kita. Allah selalu mengawasi setiap gerak gerik kita, pandangan mata kita, mengetahui yang terang dan tersembunyi dalam hati kita.
5 Syarat boleh maksiat :
1. Jangan memakai rezeki yang telah diberikan Allah kepada kita
2. Jangan bermaksiat dibumi dan alam yang diciptakan Allah
3. Carilah tempat tersembunyi dimanapun yang tidak terlihat olehNya
4. Jika malaikat maut datang katakanlah padanya tangguhkanlah kematian barang satu detik saja
5. Bila nanti diakhir malaikat Jabaniyyah menangkapnya dineraka maka katakan saya ingin masuk surga.




Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances